Pick Me Girl: Merendahkan Berkedok ‘Si Paling Beda’
Fenomena pick me girl masih hangat dibicarakan hingga hari ini. Bahkan sepertinya tren ini sulit untuk dihentikan mengingat begitu banyak orang ikut-ikutan berkat sosial media. Akan tetapi tidak sedikit pula orang yang membenci tren ini dan memberi peringatan kepada pengguna sosial media lain bahwa pick me girl sejatinya toksik. Lalu apa sih maksud pick me girl yang sedang ramai ini?
Pick me girl adalah istilah yang digunakan kepada wanita bahwa dirinya si paling nomor satu dengan merendahkan wanita lainnya. Alasan utamanya yakni mencari perhatian kaum lelaki dan memperlihatkan ia lebih “unik” daripada wanita lainnya.
Pick me girl memiliki dua tipe. Wanita yang menjunjung tipe tradisional berusaha keras menunjukkan femininitasnya atau kegiatannya di rumah, seperti bersolek, membersihkan rumah, memasak, dll. Sedangkan tipe bebas menampik sisi feminimnya dan peran domestiknya. Ia juga lebih memilih memiliki teman pria karena menganggap teman wanita berarti banyak drama. Ia bahkan berasumsi dirinya “tidak seperti wanita pada umumnya” dengan sangat percaya diri.
Lalu apa saja hal-hal yang bisa menjadi pembanding antara dia dan wanita lain? Pertama, penampilan. Seorang pick me girl akan mengejek selera berpakaian, budaya kecantikan, atau penampilan fisik wanita lain. Kedua, karir. Pick me girl akan menggemborkan kesuksesannya atau kekurangannya demi memperlihatkan bahwa ia “berbeda”. Ketiga, pilihan gaya hidup. Pick me girl akan memperlihatkan kegiatan yang menurutnya tidak dilakukan oleh wanita pada umum, seperti bermain game, skateboard, parkour atau kegiatan lain yang sering didominasi oleh pria.
Kemunculan pick me girl disebabkan oleh rendahnya tingkat kepercayaan diri. Ia memerlukan validasi terutama dari pria. Ia juga perlu merendahkan wanita lain dihadapan teman-teman lawan jenisnya agar ia tampak paling ‘bersinar’.
Padahal perilaku maupun kegiatan yang dilakukan oleh si wanita bisa jadi terkesan biasa saja. Tetapi apa yang ditampakkan olehnya adalah hal luar biasa dari sudut pandangnya. Itu semua demi mendapatkan perhatian dari lawan jenis.
Menjadi sesuatu yang bukan diri kita seutuhnya demi mendapatkan perhatian orang lain adalah sebuah penyiksaan kepada diri sendiri. Satu hal yang perlu ditekankan, baik itu wanita atau pria, yaitu kita unik dengan cara kita masing-masing. Kita keren tanpa perlu merendahkan sesama atau beda gender.
Rafarda Septiardhya